
Teks Sastra
Quiz
•
World Languages
•
11th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
ROSI NOVIJAYANTI
Used 9+ times
FREE Resource
Enhance your content in a minute
12 questions
Show all answers
1.
FILL IN THE BLANK QUESTION
2 mins • 1 pt
Cermati ganbar berikut.
Jika kamu ingin mencari informasi tentang sakit sariawanmu yang lama tak kunjung sembuh, kata kunci apa yang tepat untuk memulai pencarian tentang informasi tersebut?
2.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
2 mins • 1 pt
Berdasarkan informasi yang terdapat dalam teks, apa yang dimaksud dengan sariawan?
Luka kecil pada mulut baik di lidah, bibir, maupun rongga mulut yang disebabkan karena goyangnya gigi
Luka pada mulut bagian dalam yang diakibatkan oleh benturan antargigi
Luka kecil pada selaput lendir mulut baik di lidah, bibir, maupun rongga mulut.
Luka yang terdapat di dalam mulut, berbentuk bulat, dan sering mengeluarkan darah.
Luka pada gusi akibat penggunaan pasta gigi yang mengandung banyak detergen
3.
MULTIPLE SELECT QUESTION
2 mins • 1 pt
Sepenggal Kisah Antartika
Kulihat makanan yang disajikan Rera. Perutku bergejolak. Kentang rebus, sayur rebus, salmon rebus. Sungguh, aku merindukan nasi padang, bahkan sate kambing. Tetapi, ini Antartika, kawasan Kutub Selatan di mana matahari bersinar sepanjang hari. Sejauh mata memandang hanya hamparan es yang memutih, dengan sedikit batuan hitam yang luput terselimuti. Sekitar 90 persen es dunia atau sebanyak 29 juta km kubik terperangkap di sini. Yang jelas, di sini hanya ada makanan-makanan kering dan beku.
“Kangen makanan rumah?” tanya Rera. “Nanti malam kubuatkan nasi goreng atau kupanaskan rendang dari kotak perbekalan kita.”
Ini hari pertama kami di Vinson Base Camp, titik awal pendakian menuju puncak Vinson Massif. Sayang, angin kencang menyambut kedatangan kami di benua terkering dan terdingin ini. Untuk sementara, kami belum bisa melanjutkan perjalanan ke kem berikutnya. Antartika memang merupakan tempat paling dingin dan berangin di dunia. Suhu -40 derajat Celsius sudah biasa. Di musim dingin, suhu bisa mencapai -90 derajat Celsius.
Makanya, kami harus memakai empat sampai lima lapis pakaian.
Aku merasa beruntung, ada Rera di tim ekspedisi ini. Hampir selalu dia yang menyiapkan makanan dan minuman untuk kami bertiga: aku, Rera, dan Max. Sering aku dan Max mencoba mengambil alih. Tetapi, Rera selalu menolak.
Rera memanaskan sebongkah es dengan kompor khusus. Di Antartika yang beku ini, tidak ada air ataupun sumber air. Untuk memasak, kami harus menjerang bongkahan es.
Es mulai mencair. Air pun mendidih. Dengan cekatan Rera menuangnya ke botol, lalu membuatkan teh panas. Ini harus dilakukan dengan cepat. Kalau tidak, air panas keburu dingin dan beku kembali.
Rera cepat-cepat membereskan peralatan memasaknya. Peralatan memasak tidak boleh diletakkan sembarangan, melainkan harus dialasi dengan matras supaya tidak melekat dengan es. Termos air pun harus diselimuti bahan matras supaya isinya tidak berubah menjadi bongkahan es.
Tiba-tiba Max berseru, “Kunto, lihat ini!”
Max menunjukkan kaleng bekas salmon. “Sudah kedaluwarsa lima tahun yang lalu!”
Rera tertawa. “Antartika itu kulkas abadi, apa saja awet di sini. Hukum kedaluwarsa tidak berlaku.”
Hari kedua cuaca mulai membaik. Sepertinya besok kami bisa melanjutkan perjalanan. Matahari mulai tertutup pegunungan. Artinya, malam tiba, meskipun di luar tetap terang. Kami harus beristirahat.
Namun, kulihat Rera malah duduk termenung. “Kenapa?” tanyaku. Mata Rera agak sembab. Hei, anak yang selalu terlihat riang itu menangis?
“Berceritalah. Mungkin bisa melegakan,” ucapku.
Rera berusaha tersenyum. “Tiba-tiba aku ingat Ibu. Ibu yang paling bersemangat mendukungku untuk ikut ekspedisi ini. Ibu yang mengajariku berbagai hal tentang bertahan hidup di alam. Ibuku dulu juga seorang pendaki gunung.”
Lalu, Rera bercerita tentang ibunya. Aku tekun mendengarkan. Sesekali dia mengusap air mata rindu yang menitik. Hmm, pantas Rera terlihat begitu cekatan dan bersemangat. Rupanya ada seorang Ibu tangguh yang menjadi penopangnya.
“Ah, terima kasih sudah menjadi teman bercerita. Yuk, istirahat! Besok kita lanjutkan perjalanan menaklukkan Antartika. Semangat!” ucap Rera sambil tertawa.
Aku lega. Keriangan Rera sudah kembali.
Berilah tanda centang (√) pada setiap pernyataan yang benar!Rera yang pada awalnya selalu terlihat riang tiba-tiba menangis krena teringat akan ibunya yang...
paling bersemangat mendukungnya untuk ikut ekspedisi
meninggal dunia ketika sedang mendaki gunung
tidak setuju dengan sikapnya yang senang berekspedisi
mengajarinya berbagai hal tentang bertahan hidup di alam
dulu juga seorang pendaki gunung
4.
FILL IN THE BLANK QUESTION
2 mins • 1 pt
Sepenggal Kisah Antartika
Kulihat makanan yang disajikan Rera. Perutku bergejolak. Kentang rebus, sayur rebus, salmon rebus. Sungguh, aku merindukan nasi padang, bahkan sate kambing. Tetapi, ini Antartika, kawasan Kutub Selatan di mana matahari bersinar sepanjang hari. Sejauh mata memandang hanya hamparan es yang memutih, dengan sedikit batuan hitam yang luput terselimuti. Sekitar 90 persen es dunia atau sebanyak 29 juta km kubik terperangkap di sini. Yang jelas, di sini hanya ada makanan-makanan kering dan beku.
“Kangen makanan rumah?” tanya Rera. “Nanti malam kubuatkan nasi goreng atau kupanaskan rendang dari kotak perbekalan kita.”
Ini hari pertama kami di Vinson Base Camp, titik awal pendakian menuju puncak Vinson Massif. Sayang, angin kencang menyambut kedatangan kami di benua terkering dan terdingin ini. Untuk sementara, kami belum bisa melanjutkan perjalanan ke kem berikutnya. Antartika memang merupakan tempat paling dingin dan berangin di dunia. Suhu -40 derajat Celsius sudah biasa. Di musim dingin, suhu bisa mencapai -90 derajat Celsius.
Makanya, kami harus memakai empat sampai lima lapis pakaian.
Aku merasa beruntung, ada Rera di tim ekspedisi ini. Hampir selalu dia yang menyiapkan makanan dan minuman untuk kami bertiga: aku, Rera, dan Max. Sering aku dan Max mencoba mengambil alih. Tetapi, Rera selalu menolak.
Rera memanaskan sebongkah es dengan kompor khusus. Di Antartika yang beku ini, tidak ada air ataupun sumber air. Untuk memasak, kami harus menjerang bongkahan es.
Es mulai mencair. Air pun mendidih. Dengan cekatan Rera menuangnya ke botol, lalu membuatkan teh panas. Ini harus dilakukan dengan cepat. Kalau tidak, air panas keburu dingin dan beku kembali.
Rera cepat-cepat membereskan peralatan memasaknya. Peralatan memasak tidak boleh diletakkan sembarangan, melainkan harus dialasi dengan matras supaya tidak melekat dengan es. Termos air pun harus diselimuti bahan matras supaya isinya tidak berubah menjadi bongkahan es.
Tiba-tiba Max berseru, “Kunto, lihat ini!”
Max menunjukkan kaleng bekas salmon. “Sudah kedaluwarsa lima tahun yang lalu!”
Rera tertawa. “Antartika itu kulkas abadi, apa saja awet di sini. Hukum kedaluwarsa tidak berlaku.”
Hari kedua cuaca mulai membaik. Sepertinya besok kami bisa melanjutkan perjalanan. Matahari mulai tertutup pegunungan. Artinya, malam tiba, meskipun di luar tetap terang. Kami harus beristirahat.
Namun, kulihat Rera malah duduk termenung. “Kenapa?” tanyaku. Mata Rera agak sembab. Hei, anak yang selalu terlihat riang itu menangis?
“Berceritalah. Mungkin bisa melegakan,” ucapku.
Rera berusaha tersenyum. “Tiba-tiba aku ingat Ibu. Ibu yang paling bersemangat mendukungku untuk ikut ekspedisi ini. Ibu yang mengajariku berbagai hal tentang bertahan hidup di alam. Ibuku dulu juga seorang pendaki gunung.”
Lalu, Rera bercerita tentang ibunya. Aku tekun mendengarkan. Sesekali dia mengusap air mata rindu yang menitik. Hmm, pantas Rera terlihat begitu cekatan dan bersemangat. Rupanya ada seorang Ibu tangguh yang menjadi penopangnya.
“Ah, terima kasih sudah menjadi teman bercerita. Yuk, istirahat! Besok kita lanjutkan perjalanan menaklukkan Antartika. Semangat!” ucap Rera sambil tertawa.
Aku lega. Keriangan Rera sudah kembali.
Apa yang akan terjadi jika pendaki tidak memenuhi standar berpakaian di Antartika?
5.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
2 mins • 1 pt
PET!
'Duh! Sinyal Aneh
Selalu saja begini tiap mau menyelesaikan tugas!' Dani memandang ruang kamarnya yang menjadi gelap gulita. Ia meletakkan pensilnya di atas buku tulisnya. Pupilnya yang semula mengecil karena cahaya terang menjadi membesar karena tak ada penerangan.
Ia berdiam diri sejenak dan membiarkan matanya beradaptasi dengan kondisi sekitar. Enam juta sel kerucut retinanya melakukan deaktivasi ketika tidak ada cahaya, juga seratus dua puluh juta sel batang retina mengaktifkan diri. Ia pun bisa melihat kondisi sekitar meski hanya remang-remang.
Dani berdiri dan berjalan pelan sambil meraba-raba benda di hadapannya. Ia tidak ingin terbentur dinding atau pintu. Ia berhasil memegang ujung pintu kayu yang terbuka separuh dan membuka pintu itu selebar mungkin.
Sebuah cahaya kecil menyentuh lapisan kornea dan menyapa pupilnya yang mengerucut hingga dibelokkan oleh lensa. Ia melihat seseorang berjalan. Lilin itu memudahkan retinanya menangkap pantulan cahaya hingga ruangan sekitar terlihat.
'Terima kasih, Bu.' Dani membawa lilin yang dibawakan ibu ke dalam kamar dan menaruh di samping buku- bukunya yang terlihat jelas berantakan.
Meski kekurangan cahaya, ia tetap melanjutkan mengerjakan tugas. Hanya dalam waktu sebentar saja, matanya mulai lelah. Ia mengantuk dan menjatuhkan kepala di atas buku.
Hawa dingin berubah menjadi begitu hangat. Daun telinga Dani yang melengkung menyatukan bunyi gemerisik aneh kemudian masuk hingga ke gendang telinga. Reseptor hidung mengirim sinyal aroma gosong ke saraf olfaktori hingga ke otak. Dengan mata masih terpejam, ia merasa pupilnya menangkap cahaya menjadi lebih terang.
Sinyal-sinyal aneh itu membuat Dani harus membuka mata. Tanpa pikir panjang, Dani langsung terlonjak melihat api melahap kertas-kertas di depannya. Ia melihat lilin yang berdiri sudah terjatuh.
Dani memiliki karakter yang gigih. Hal itu terlihat dari tindakan Dani yang...
'IBUUUUUUU!!'
mudah beradaptasi dengan kondisi sekitarnya yang gelap gulita
mengucapkan terima kasih kepada ibunya yang memberinya lilin
berusaha keras membuka matanya yang mengantuk untuk mencari ibu
tetap mengerjakan tugas meskipun dengan penerangan yang seadanya
begitu cepat merasakan sinyal aneh yang sampai ke telinga dan matanya.
6.
FILL IN THE BLANK QUESTION
2 mins • 1 pt
PET!
'Duh! Sinyal Aneh
Selalu saja begini tiap mau menyelesaikan tugas!' Dani memandang ruang kamarnya yang menjadi gelap gulita. Ia meletakkan pensilnya di atas buku tulisnya. Pupilnya yang semula mengecil karena cahaya terang menjadi membesar karena tak ada penerangan.
Ia berdiam diri sejenak dan membiarkan matanya beradaptasi dengan kondisi sekitar. Enam juta sel kerucut retinanya melakukan deaktivasi ketika tidak ada cahaya, juga seratus dua puluh juta sel batang retina mengaktifkan diri. Ia pun bisa melihat kondisi sekitar meski hanya remang-remang.
Dani berdiri dan berjalan pelan sambil meraba-raba benda di hadapannya. Ia tidak ingin terbentur dinding atau pintu. Ia berhasil memegang ujung pintu kayu yang terbuka separuh dan membuka pintu itu selebar mungkin.
Sebuah cahaya kecil menyentuh lapisan kornea dan menyapa pupilnya yang mengerucut hingga dibelokkan oleh lensa. Ia melihat seseorang berjalan. Lilin itu memudahkan retinanya menangkap pantulan cahaya hingga ruangan sekitar terlihat.
'Terima kasih, Bu.' Dani membawa lilin yang dibawakan ibu ke dalam kamar dan menaruh di samping buku- bukunya yang terlihat jelas berantakan.
Meski kekurangan cahaya, ia tetap melanjutkan mengerjakan tugas. Hanya dalam waktu sebentar saja, matanya mulai lelah. Ia mengantuk dan menjatuhkan kepala di atas buku.
Hawa dingin berubah menjadi begitu hangat. Daun telinga Dani yang melengkung menyatukan bunyi gemerisik aneh kemudian masuk hingga ke gendang telinga. Reseptor hidung mengirim sinyal aroma gosong ke saraf olfaktori hingga ke otak. Dengan mata masih terpejam, ia merasa pupilnya menangkap cahaya menjadi lebih terang.
Sinyal-sinyal aneh itu membuat Dani harus membuka mata. Tanpa pikir panjang, Dani langsung terlonjak melihat api melahap kertas-kertas di depannya. Ia melihat lilin yang berdiri sudah terjatuh.
'IBUUUUUUU!!'
Apa tujuan penulis menggunakan kata “PET!” pada bagian awal cerita tersebut?
7.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
2 mins • 1 pt
Bahaya Berkendara Sebelum Waktunya
Sore ini adalah jadwal latihan olahraga basket di sekolah. Tapi gara-gara aku ketiduran setelah pulang sekolah, aku jadi hampir terlambat untuk mengikuti latihan basket tersebut.
“Ayah, ayo antarkan aku ke sekolah. Aku sudah hampir terlambat,” desakku kepada ayah yang sedang memperbaiki kipas angin.
“Aduh, ayah lagi sibuk, nih. Jalan kaki aja seperti biasa,” jawab ayah sambil tak lepas dengan obengnya. “Tapi aku hampir terlambat. Mana bisa jalan kaki,” desakku lagi. Tiba-tiba aku ingat sesuatu.
“Aku saja yang bawa motor sendiri ke sekolah ya, Yah. Aku kan sudah bisa karena diajari oleh Abang Rudi,” ucapku sambil membujuk ayah. Ayah menghentikan kegiatannya sejenak, lalu tampak berpikir.
“Ayolah, Yah. Aku akan hati-hati. Lagian jarak ke sekolah gak terlalu jauh kok,” bujukku lagi.
“Iya, deh. Tapi harus janji untuk berhati-hati, ya,” nasihat ayah yang langsung aku sambut dengan lompatan sukacita.
“Yes!!”
Aku mengendarai motor dengan perasaan senang. Heru pasti akan iri melihatku membawa kendaraan sendiri hari ini. Dan, Malika pasti akan kagum melihatku jago mengemudi sepeda motor. Mendadak hatiku berbunga- bunga. Tanpa bisa ditahan, senyumku mulai merekah. Ya, aku nyaris seperti orang gila yang tersenyum-senyum sendiri di sepanjang jalan.
Lalu, tiba-tiba … Tetttt!!!!
Entah darimana sebuah mobil tiba-tiba datang dari arah depan. Apa aku yang memang tidak melihat sebelumnya karena asyik mengkhayal dalam perjalanan atau memang mobil itu adalah mobil siluman yang datang dan pergi secara tiba-tiba.
Ah, entahlah. Tapi yang pasti, pikiranku jadi kacau dan konsentrasiku pecah. Sepertinya kondisi kejiwaanku tidak siap menghadapi peristiwa ini sehingga otak kecilku tidak tahu harus memerintahkan apa untuk menjadi sebuah tindakan penyelamatan.
Yang aku tahu, setang motor sudah berbelok ke kiri saja. Gubrak!!!
Aduh!!!
Ya, Tuhan. Aku bersama motorku terjun ke sebuah selokan. Sekilas aku melihat setang motor bengkok, kaki tidak dapat digerakkan, dan banyak orang mulai berdatangan. Aku pingsan. Setelah itu? Aku berjanji tidak akan berkendara motor lagi sebelum usiaku matang.
Mengapa tokoh aku hampir terlambat mengikuti latihan basket?
Membantu ayahnya terlebih dahulu
Lelap tertidur setelah pulang sekolah
Belajar naik motor bersama Bang Rudi.
Bermain dengan Heru sepulang sekolah
Terjadi insiden motornya masuk selokan
Access all questions and much more by creating a free account
Create resources
Host any resource
Get auto-graded reports

Continue with Google

Continue with Email

Continue with Classlink

Continue with Clever
or continue with

Microsoft
%20(1).png)
Apple
Others
Already have an account?
Similar Resources on Wayground
10 questions
Kuiz Pengurusan Stres
Quiz
•
11th Grade
15 questions
Bahasa Indonesia Drama
Quiz
•
11th - 12th Grade
11 questions
QUIZ BAHASA INDONESIA
Quiz
•
9th - 12th Grade
15 questions
L'articolo di giornale (recap)
Quiz
•
11th Grade
15 questions
小テスト
Quiz
•
11th Grade
10 questions
Kuis proposal awal
Quiz
•
11th Grade
10 questions
Ujian Formatif 1
Quiz
•
1st Grade - Professio...
15 questions
BAHASA MELAYU KLASIK TGKTN 4
Quiz
•
10th - 12th Grade
Popular Resources on Wayground
7 questions
History of Valentine's Day
Interactive video
•
4th Grade
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
15 questions
Valentine's Day Trivia
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
Discover more resources for World Languages
20 questions
-AR -ER -IR present tense
Quiz
•
10th - 12th Grade
21 questions
San Valentin
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Adjetivos Posesivos
Quiz
•
9th - 12th Grade
28 questions
Ser vs estar
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
La Saint Valentin
Quiz
•
9th - 12th Grade
41 questions
Dia de san Valentin Sp2
Quiz
•
11th Grade
20 questions
verbos reflexivos en español
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
EL PRETERITO/ Verbos irregulares
Quiz
•
11th Grade
