Search Header Logo

Bahasa Indonesia

Authored by Muhammad Ifwandi

Education

9th - 12th Grade

Bahasa Indonesia
AI

AI Actions

Add similar questions

Adjust reading levels

Convert to real-world scenario

Translate activity

More...

    Content View

    Student View

15 questions

Show all answers

1.

MULTIPLE SELECT QUESTION

30 sec • 1 pt

Manakah yang termasuk unsur intrinsik?

Gaya bahasa

Latar budaya

Latar masyarakat

Latar tempat

Sudut pandang

2.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

2 mins • 1 pt

Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.


Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen di atas adalah …

orang pertama pelaku utama

orang pertama pelaku sampingan

orang kedua pelaku utama

orang ketiga serbatahu

orang ketiga terbatas/pengamat

3.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

2 mins • 1 pt

Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.


Pembuktian latar waktu pada kutipan cerpen tersebut adalah …

Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon

Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum dipugar

Perempuan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam

Perempuan berumur tiga puluhan itu senang melukis

Aku datang sore hari, kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi

4.

MULTIPLE SELECT QUESTION

30 sec • 1 pt

Manakah bagian yang termasuk 'struktur' cerpen?

Abstrak

Komplikasi

Koda

Orientasi

Resolusi

5.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

2 mins • 1 pt

Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.

”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”

“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.

“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”

“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”

“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”


Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ...

Kadis rajin mengaji karena menghindari pekerjaan di rumah

Kyai Dofir melarang Kadis mengaji karena tidak belajar apa-apa dari mengaji

Kadis salah memahami ajaran agama tentang bekerja dan mengaji

Kadis memberi nafkah pada anak istrinya dengan uang hasil meminta-minta

Kyai Dofir menuduh Kadis melakukan perbuatan yang tidak halal

6.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

2 mins • 1 pt

Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.

”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”

“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.

“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”

“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”

“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”


Pendeskripsian watak tokoh Kadis diungkapkan melalui …

uraian langsung

perilaku tokoh

dialog antartokoh

tanggapan tokoh lain

pikiran tokoh

7.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

2 mins • 1 pt

Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.

”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”

“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.

“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”

“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”

“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”


Amanat yang tersirat pada kutipan cerpen di atas adalah ...

Seorang istri harus berhati-hati terhadap pemberian suami

Nafkah hasil keringat sendiri lebih besar pahalanya

Sebagai hamba Allah kita harus pergi mengaji apapun alasannya

Kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga bagaimana pun caranya

Jangan meminta-minta pada orang lain selagi kita masih bisa bekerja

Access all questions and much more by creating a free account

Create resources

Host any resource

Get auto-graded reports

Google

Continue with Google

Email

Continue with Email

Classlink

Continue with Classlink

Clever

Continue with Clever

or continue with

Microsoft

Microsoft

Apple

Apple

Others

Others

Already have an account?